Kayaknya sudah kesekian kali saya di private message di irc soal film ayat-ayat cinta dan kayaknya saya sudah capek. Petikan percakapannya kira-kira seperti ini :
<glodak> Halo pak Isnan
<air> Halo
<glodak> Sudah nonton ayat-ayat cinta pak ?
<air> Gak tertarik
<glodak> Lo kenapa pak ?
<air> Emang bagus ?
<glodak> Bagus pak, memotivasi untuk lebih mengenal Islam loh.
<air> Terus ?
<glodak> Ya pak Isnan nonton dong biar tahu.
<air> Gak tertarik.
<glodak> Pak Isnan gak tertarik sama agama yah ?
Saya menarik napas panjang. Memangnya kalau saya tertarik agama saya harus bikin pengumuman ke orang-orang, pasang baliho di tengah kota bertuliskan “HALO-HALO, ISNAN CINTA AGAMA, ISNAN ITU ISLAM LO, PERHATIAN-PERHATIAN” gitu yah ?
<air> Saya gak tertarik sama film ayat-ayat cinta.
<glodak> Kenapa sih pak ?
<air> Menurut kamu itu film agama ?
<glodak> La menurut pak Isnan itu bukan film agama ?
<air> Menurut saya itu film sastra. Film agama menurut saya harusnya gak fiksi.
<glodak> Emang kenapa pak ?
<air> Karena kisah agama dibuat untuk diteladani. Bagaimana meneladani sesuatu yang fiksi ? Kalau sastra ya sastra, gak usah di lebih-lebihkan.
<glodak> Tapi yang diceritakan kan bener pak ? Misal saya jadi tahu tentang kehidupan di pesantren.
Lagi-lagi saya menarik napas panjang. Baru lihat film satu kali sudah jadi pakar soal kehidupan di pesantren. Dan saya yang gak pernah nonton film jelas gak tahu soal pesantren. Kalau dua minggu yang lalu saya mampir ke pondok istri, kalau empat saudara ipar saya mondok semua, itukan bukan saya, itu kan cuma melihat sisi luarnya. Sisi dalamnya ya dilihat dari film itu.
Saya yang belum lihat filmnya gak tahu bagaimana detail sang sutradara menggambarkan kehidupan pesantren. Mungkin digambarkan tentang para santri yang menadah air hujan karena sumber mata air jadi keruh saat hujan. Mungkin digambarkan seorang santri yang sahur segelas air putih berbuka dengan lontong seratus rupiah. Mungkin digambarkan tentang tiga kakak beradik yang berdoa khusyuk sebelum membagi jatah nasi dari pondok yang ukurannya kira-kira cuman seperempat piring, dan ketika sudah dibagi langsung habis dalam satu suapan, kemudian tidak makan sama sekali sampai esok hari. Atau juga para santri yang asik meniup arang di setrikaannya karena pihak pesantren melarang penggunaan listrik berlebihan. (Saya jadi teringat sesuatu, hihihihi, nevermind)
Mungkin juga digambarkan tentang bagaimana di kota-kota besar “SEKOLAH-SEKOLAH ISLAM MODERN CANGGIH BERFASILITAS HEBAT BAK ISTANA LAKSANA TERBUAT DARI PUALAM BERHADIAH TIPI DAN KULKAS” berlomba-lomba menaikkan biaya pendaftaran dan SPP, sementara di desa-desa para guru madrasah sampai menyusul muridnya di rumah karena disuruh orang tua untuk membantu nderep padi disawah. Walaupun sudah digratiskan oleh pengasuh pondok. Mungkin kita harus membedakan sekolah Islam sama pesantren. Ciri sekolah islam kan khusus hanya menerima murid-murid anak orang kaya. Pesantren-pesantren harus setengah mati menjalankan roda pendidikan dengan tenaga guru yang kurang, guru-guru yang digaji tidak sampai dua ratus ribu sebulan karena mereka sendiri sebenarnya bukan guru tapi murid yang sudah lulus dan membantu mengajar di sekolah. Pesantren-pesantren yang lulusannya ketika melamar pekerjaan di pabrik langsung ditaruh dibawah sendiri amplop lamaran kerjanya karena pasti menolak kalau disuruh lepas kerudung.
Permasalahan sosial, kemiskinan, pengangguran, kekerasan, perpecahan etnis, terorisme, kebodohan umat jelas bukan masalah agama, yang masalah agama itu ya kalau kuliah di mesir, dan cinta-cintaan itu.
Seperti saya bilang … SAYA GAK TAHU APA-APA.
Kalau saya gak tertarik akan sebuah film bukan berarti saya bilang film itu gak bagus. Tapi gak perlu lah di promosiin. Toh orang nomor satu di negara ini sudah nonton, dan tentu saja jadi poin tersendiri. Kalau saya gak nonton, toh sudah ada 20 juta penonton yang nonton dan terisak-isak di bioskop. Sudah ratusan juta blog membahas kebagusan dan kehebatan film super ordinary ini. Sudah jutaan orang mengumandangkan lirik-lirik lagu soundtracknya.
Mungkin suatu saat nanti saya akan nonton. Mungkin saya akan bilang bagus dan mungkin … mengkopi CD nya. Tapi itu nanti. Mungkin.
<air> Saya gak mood nih ngobrolinnya.
<glodak> La pak Isnan begitu … gak gaul nih.
<air> Kalau saya jadi gaul, hanoman nanti jadi manusia.
Berjuta cara manusia menceritakan kisah. Bak wayang purwa, ramayana, dan mahabarata. Dan di sepanjang cerita kita lihat bagaimana para ksatria mendominasi dengan monolog dan dialog yang bikin ngantuk. Sementara para prajurit, para abdi, juga para raksasa kroco duduk diam di dalam kotak dan keluar nanti suatu ketika pak dalang membutuhkan mereka untuk para ksatria bisa memukuli dan melempar-lempar mereka. Para penonton bersorak sorai, karena tidak ada hiburan yang paling digemari selain melihat para penguasa menginjak-nginjak kepala rakyat kecil.


This is a website of collected resource, opinion, personal writings, and just common updated general information blog of SPIDOLHITAM


