26 Mar, 2008  |  Written by spidolhitam  |  under PERSONAL

Kayaknya sudah kesekian kali saya di private message di irc soal film ayat-ayat cinta dan kayaknya saya sudah capek. Petikan percakapannya kira-kira seperti ini :

<glodak> Halo pak Isnan
<air> Halo
<glodak> Sudah nonton ayat-ayat cinta pak ?
<air> Gak tertarik
<glodak> Lo kenapa pak ?
<air> Emang bagus ?
<glodak> Bagus pak, memotivasi untuk lebih mengenal Islam loh.
<air> Terus ?
<glodak> Ya pak Isnan nonton dong biar tahu.
<air> Gak tertarik.
<glodak> Pak Isnan gak tertarik sama agama yah ?

Saya menarik napas panjang. Memangnya kalau saya tertarik agama saya harus bikin pengumuman ke orang-orang, pasang baliho di tengah kota bertuliskan “HALO-HALO, ISNAN CINTA AGAMA, ISNAN ITU ISLAM LO, PERHATIAN-PERHATIAN” gitu yah ?

<air> Saya gak tertarik sama film ayat-ayat cinta.
<glodak> Kenapa sih pak ?
<air> Menurut kamu itu film agama ?
<glodak> La menurut pak Isnan itu bukan film agama ?
<air> Menurut saya itu film sastra. Film agama menurut saya harusnya gak fiksi.
<glodak> Emang kenapa pak ?
<air> Karena kisah agama dibuat untuk diteladani. Bagaimana meneladani sesuatu yang fiksi ? Kalau sastra ya sastra, gak usah di lebih-lebihkan.
<glodak> Tapi yang diceritakan kan bener pak ? Misal saya jadi tahu tentang kehidupan di pesantren.

Lagi-lagi saya menarik napas panjang. Baru lihat film satu kali sudah jadi pakar soal kehidupan di pesantren. Dan saya yang gak pernah nonton film jelas gak tahu soal pesantren. Kalau dua minggu yang lalu saya mampir ke pondok istri, kalau empat saudara ipar saya mondok semua, itukan bukan saya, itu kan cuma melihat sisi luarnya. Sisi dalamnya ya dilihat dari film itu.

Saya yang belum lihat filmnya gak tahu bagaimana detail sang sutradara menggambarkan kehidupan pesantren. Mungkin digambarkan tentang para santri yang menadah air hujan karena sumber mata air jadi keruh saat hujan. Mungkin digambarkan seorang santri yang sahur segelas air putih berbuka dengan lontong seratus rupiah. Mungkin digambarkan tentang tiga kakak beradik yang berdoa khusyuk sebelum membagi jatah nasi dari pondok yang ukurannya kira-kira cuman seperempat piring, dan ketika sudah dibagi langsung habis dalam satu suapan, kemudian tidak makan sama sekali sampai esok hari. Atau juga para santri yang asik meniup arang di setrikaannya karena pihak pesantren melarang penggunaan listrik berlebihan. (Saya jadi teringat sesuatu, hihihihi, nevermind)

Mungkin juga digambarkan tentang bagaimana di kota-kota besar “SEKOLAH-SEKOLAH ISLAM MODERN CANGGIH BERFASILITAS HEBAT BAK ISTANA LAKSANA TERBUAT DARI PUALAM BERHADIAH TIPI DAN KULKAS” berlomba-lomba menaikkan biaya pendaftaran dan SPP, sementara di desa-desa para guru madrasah sampai menyusul muridnya di rumah karena disuruh orang tua untuk membantu nderep padi disawah. Walaupun sudah digratiskan oleh pengasuh pondok. Mungkin kita harus membedakan sekolah Islam sama pesantren. Ciri sekolah islam kan khusus hanya menerima murid-murid anak orang kaya. Pesantren-pesantren harus setengah mati menjalankan roda pendidikan dengan tenaga guru yang kurang, guru-guru yang digaji tidak sampai dua ratus ribu sebulan karena mereka sendiri sebenarnya bukan guru tapi murid yang sudah lulus dan membantu mengajar di sekolah. Pesantren-pesantren yang lulusannya ketika melamar pekerjaan di pabrik langsung ditaruh dibawah sendiri amplop lamaran kerjanya karena pasti menolak kalau disuruh lepas kerudung.

Permasalahan sosial, kemiskinan, pengangguran, kekerasan, perpecahan etnis, terorisme, kebodohan umat jelas bukan masalah agama, yang masalah agama itu ya kalau kuliah di mesir, dan cinta-cintaan itu.

Seperti saya bilang … SAYA GAK TAHU APA-APA.

Kalau saya gak tertarik akan sebuah film bukan berarti saya bilang film itu gak bagus. Tapi gak perlu lah di promosiin. Toh orang nomor satu di negara ini sudah nonton, dan tentu saja jadi poin tersendiri. Kalau saya gak nonton, toh sudah ada 20 juta penonton yang nonton dan terisak-isak di bioskop. Sudah ratusan juta blog membahas kebagusan dan kehebatan film super ordinary ini. Sudah jutaan orang mengumandangkan lirik-lirik lagu soundtracknya.

Mungkin suatu saat nanti saya akan nonton. Mungkin saya akan bilang bagus dan mungkin … mengkopi CD nya. Tapi itu nanti. Mungkin.

<air> Saya gak mood nih ngobrolinnya.
<glodak> La pak Isnan begitu … gak gaul nih.
<air> Kalau saya jadi gaul, hanoman nanti jadi manusia.

Berjuta cara manusia menceritakan kisah. Bak wayang purwa, ramayana, dan mahabarata. Dan di sepanjang cerita kita lihat bagaimana para ksatria mendominasi dengan monolog dan dialog yang bikin ngantuk. Sementara para prajurit, para abdi, juga para raksasa kroco duduk diam di dalam kotak dan keluar nanti suatu ketika pak dalang membutuhkan mereka untuk para ksatria bisa memukuli dan melempar-lempar mereka. Para penonton bersorak sorai, karena tidak ada hiburan yang paling digemari selain melihat para penguasa menginjak-nginjak kepala rakyat kecil.

22 Mar, 2008  |  Written by spidolhitam  |  under PERSONAL

Tanpa bermaksud merendahkan karya para sutradara terkenal, dan mengesampingkan tujuan sebuah film untuk sebisa mungkin realistis, dan sesuai dengan sejarah.

10.000 BC
Sutradara Roland Emerich memang terkenal agak ‘gak nyambung’ soal realisme (misal soal mengirim virus via macintosh ke pesawat alien dalam film INDEPENDENCE DAY). Jadi dengan berat hati saya sampaikan kalau, Orang Mesir Kuno tidak memberdayakan mammoth untuk membuat Piramid (:P). Plus, tidak ada mammoth yang ditemukan di padang pasir (mammoth itu binatang daerah dingin), karena kebanyakan hewan padang pasir itu tidak berbulu. Dan … piramid tertua yang ditemukan dibangun 2500 SM.

GLADIATOR
Kaisar Commodus benar-benar di permak habis-habisan di film ini. Dalam catatan sejarah memang Commodus seorang pemabuk, tapi bukan kaisar cengeng. Kaisar Commodus memerintah Romawi lebih dari satu dekade (bukannya cuman beberapa bulan). Dia juga tidak membunuh bapaknya (Marcus Aurelius) yang meninggal karena penyakit cacar. Commodus juga tidak terbunuh di arena gladiator, Commodus mati terbunuh di dalam bak mandi.

300
Film ini diangkat dari kisah nyata pertempuran di Thermopylae, tapi tetap saja banyak sisi gak nyambungnya. Yang paling jelas Xerxes (Raja Persia) tingginya bukan 2,5 meter. Dewan agung Sparta adalah dewan yang anggotanya berusia diatas 60 tahun (Theron yang baru 30-40an jelas gak masuk la). Dan tentara Sparta ketika maju berperang mengenakan baju zirah dari perunggu, bukan cuma celana kulit merk speedo.

THE LAST SAMURAI
Orang-orang jepang di akhir abad 19 memang menyewa tenaga asing untuk memodernisasi tentara kerajaannya, tapi kebanyakan dari Perancis, bukan Amerika. Saigo Takamori adalah karakter asli yang melakukan seppuku setelah kalah dalam pertarungan (bukan di tengah berondongan guttling gun). Dan sangat diragukan kalau veteran perang pemabuk 40 tahunan, meski dengan rambut yang sangat indah, bisa menguasai seni pedang samurai lebih hebat dari dia menguasai cara memakai sumpit.

APOCALYPTO
Film ini benar-benar membuat pusing para antropolog. Bangsa Maya memang memiliki tradisi pengorbananan manusia tapi bukan ke Kulkulkan (Dewa Matahari, duh). Para Conquistadors (tentara spanyol), yang datang di akhir film jelas-jelas bukan dewa penyelamat. Salah satu penelitian memperkirakan 90 persen populasi Amerika primitif mati karena penyakit cacar yang ditularkan dari babi-babi yang dibawa para pendatang.

MEMOIRS OF A GEISHA
Tradisi ‘Misuage’, atau ketika seorang gadis memasuki usia menjadi geisha, tidaklah lebih dari mengganti cara berdandan dan berpakaian, tidak ada hubungannya dengan menjual kegadisannya pada seorang klien. Dan penampilan Sayuri ketika menari memakai sandal dingklik, salju buatan, dan lampu sorot, lebih mengingatkan kita kepada teater Broadway ketimbang jaman pra-perang Kyoto.

BRAVEHEART
Kita lupakan saja fakta sejarah bahwa kilts (kain mirip rok yang dipakai orang scot) belumlah ada hingga 300 tahun setelah jamannya William Wallace dan mari hanya melihat kesalahan yang lain saja (:P). Didalam film diperlihatkan kekuatan pandangan mata biru William Wallace pada pertempuran Falkirk yang sangat dahsyat, hingga mampu menaklukkan hati isteri raja Edward II, Isabella of France, dan hasil affair tersebut adalah Edward III. Tapi kalau lihat buku sejarah nih, Isabella masih berumur tiga tahun ketika pertempuran Falkirk dan Edward III baru lahir tujuh tahun setelah meninggalnya Wallace.

ELIZABETH: THE GOLDEN AGE
Pada tahun 1585 (setting film tersebut), Ratu Elizabeth berumur 52 tahun – Cate Blanchett berumur 36 tahun ketika shoting dilakukan, dan ratu Elizabeth tidaklah diajukan ke pengadilan karena tuntutan Ivan the Terrible (yang ketika itu sudah meninggal). Dan walaupun seperti di film ratu memimpin pasukannya sepanjang Tilbury, tapi beliau memakai sadel samping dan memakai topi. Penampilannya seharusnya lebih mirip mayoret daripada Joan of Arc.

THE PATRIOT
Mel Gibson memilih Francis Marion sebagai karakter utama film ini, namun kenyataannya bahwa Francis Marion tidaklah seperti yang digambarkan dalam film. Dia adalah pemilik budak dan belumlah menikah (dengan saudari sepupunya) hingga selesainya perang. Para ahli sejarah menyebut dia sering membunuh orang Indian Cherokee. Dan, pertempuran hebat di Guilford Court House dimana dia menghancurkan tentara Inggris? Pada kenyataannya, Amerika kalah di pertempuran itu, doh!

2001: A SPACE ODYSSEY
Menurut film ini, pada tahun 2001 manusia sudah bisa berpergian ke Jupiter, bertempur dengan komputer sentinent, dan lompatan dalam evolusi manusia. Ternyata yang terjadi malah jatuhnya stasiun angkasa MIR, diluncurkannya Windows XP, dan Freddy Got Fingered. Hikmahnya adalah, kadang lebih baik kalau film-film membuat ramalan yang salah dan berbeda dari kenyataannya.

Diterjemahkan dengan asal-asalan dari Yahoo Movies

17 Mar, 2008  |  Written by spidolhitam  |  under PERSONAL

SINOPSIS : Erica Bain (Jodie Foster) adalah seorang penyiar radio yang membawakan acara bernama STREET WALK, yaitu sebuah talk show dimana Erica membawakan cerita seputar jalan-jalan di New York. Sebuah pengalaman tragis ketika Erica dan tunangannya di serang sekelompok preman, menyebabkan tewasnya sang tunangan dan hampir meninggalnya Erica.

Perubahan terjadi dalam diri Erica. Ketakutan membuatnya memutuskan untuk membeli sebuah pistol Kahr K9, dari seorang penjual senjata ilegal. Petualangan yang menegangkan ketika Erica mencoba berjalan-jalan menyusuri kota New York di malam hari dan menghadapi rasa takutnya, mempersiapkan sebuah balas dendam yang akan membebaskan jiwanya.

REVIEW :

Soal cerita : Ga terlalu kreatif. Alurnya mirip-mirip Deathnote (anime), cuman ga pakai acara shinigami, buku kematian, atau detektif super yang ga pernah pakai sandal dan ga bisa duduk tegak.

Soal Jodie Foster : Susah sekali menemukan film dimana Jodie Foster bermain sebaik dalam Silence of The Lambs. Selain mata biru dan hidungnya yang sangat indah, permainan Jodie di film ini kayak-kayak Panic Room, atau Flight Plan. Bukannya gak bagus … but surely won’t win her an Oscar.

Soal NYPD dan suasana di kantor polisi : Nah ini yang saya suka. Misal soal forensik, soal tapwire, soal torso dan 9 mm.

Soal ending : To be honest … easily predicted.

Snapshot Favorit:

Ketika Erica pergi ke kantor Polisi dan mencari tahu tentang perkembangan kasusnya, dan diterima oleh seorang petugas yang tampak sekali dengan muka datar, dan menghindari kontak mata, menekan tombol arrow bawah berkali-kali, menunjukkan betapa banyak kasus pembunuhan di New York. Walaupun agak spoiled, dengan melakukan repetisi, yang menurut saya exagerated.

Overall Rating : Lumayan (7 dari angka 10)