SURGA

Menurut anda surga itu existence atau wishful thinking sih?

Menurut anda mereka itu pejuang atau zealot?

Menurut anda … saya dan anda … itu nyata atau ilusi pikiran?

Uang

Uang adalah Tuhan manusia modern. Untuk menjadi seorang manusia modern, manusia harus menyembah uang. Manusia harus menyebut-nyebut terus tentang uang sejak bangun dari tidur hingga ia memejamkan mata dan tertidur. Kalau perlu uang harus dihadirkan dalam mimpi, mimpi indah, mimpi buruk dan mimpi basah semua harus tentang uang.

Supaya tidak terlalu mencolok kalau anda menyembah uang, anda bisa menyamar dengan sering pergi ke masjid atau gereja. Menghadiri pegajian atau siraman rohani. Sekalian anda mencari pengikut baru yang bisa anda ajak untuk menyembah uang.

Anda tidak perlu pandang bulu, mulai gadis belia, janda muda, atau perawan tua semua bisa anda sikat dan anda ajak jadi pengikut, jadi tunggu apa lagi?

PERSAHABATAN

Saya terpingkal mendengar lagu kepompong yang lagi senring diputar di radio-radio itu. Manusia memang sering melebih-lebihkan. Begitu juga soal persahabatan. It is overrated. Tidak ada itu persahabatan, yang ada adalah pertukaran komoditi dan keuntungan. Persahabatan hanya terjadi diantara mereka yang bisa saling memanfaatkan temannya. Maka orang yang banyak teman adalah orang yang banyak uang, apalagi kalau sering bagi-bagi uang. Sebagai gantinya orang-orang akan menyembah sujud dan menciumi kakinya, berputar di sekelilingnya dan memujanya bak seorang superstar.

Sebaliknya, orang yang miskin uang tidak akan pernah bisa membeli persahabatan. Mereka akan berada pada tepian marginal. Boro-boro bicara soal kebijaksanaan apalagi nasehat tentang kehidupan. Semua kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan cara mendapat keuntungan atau uang adalah hal yang sia-sia.

Selamat pagi teman, ayo mencari uang, kalau tidak mau mencari uang, sampean mati saja.

HIBERNATE

Blog ini sedang berada dalam masa hibernasi … persetan dengan kalian semua

BLOG ACTION DAY 2008 : POVERTY

Saya masih punya sedikit waktu sebelum hari ini (15 Oktober 2008) berlalu. Kemisikinan, begitu tema blog action day kali ini.

Kalau kita bicara tentang kemiskinan mungkin dalam benak kita terbersit tentang revolusi Perancis dimana kaum miskin memproklamirkan anarki melawan penindasan kaum borjuis. Atau mungkin kita akan mengenang Karl Marx dengan manifesto komunis sosialisnya. Atau mungkin tentang krisis moneter yang menghantam Indonesia tahun 1998, tentang lumpur lapindo, tentang anak jalanan, atau tentang pemilu 2009 yang akan datang.

Tapi kali ini saya ingin bicara tentang sebuah keluarga yang hidup di lereng Gunung Slamet di Jawa Tengah. Gunung Slamet yang seperti kita semua tahu terletak di antara kabupaten Tegal, Pemalang dan Brebes Jawa Tengah. Sebut saja Suharto sang kepala keluarga, Hartinah sang ibu rumah tangga, dan Bambang si anak laki-laki (bukan nama sebenarnya).

Cerita Suharto

Suharto bekerja sebagai pembantu serabutan keluarga Sudirman, pengusaha kerupuk di Slawi, itupun karena kebaikan keluarga Sudirman yang tidak tega melihat Suharto yang luntang-lantung menjadi pengangguran. Suharto giat bekerja tak kenal lelah dan waktu. Mulai membersihkan rumah, menjemur dam menggoreng krupuk, hingga bongkar muat dan menjaga toko, semua dilakoni, demi anak, dan demi istri.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitu kata orang-orang tua. Suharto yang bekerja tak kenal waktupun kolaps, ambruk, dengan kondisi ginjal yang remuk redam. Keluarga Sudirman memang membantu pengobatan Suharto, namun apa lacur, Suharto harus menerima nasibnya kembali menjadi pengangguran.

Cerita Hartinah

Hartinah adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Wajahnya cantik untuk ukuran sebuah desa kecil tempat ia tinggal. Sejak Suharto menganggur ia harus bekerja menjadi buruh cuci, buruh tani, atau apa saja yang bisa menghasilkan uang untuknya sendiri dan keluarganya.

Along came a spider. Atau begitulah kira-kira. Adalah Saiful, seorang penyanyi dangdut kelas kampung yang menjadi langganan jasa cuci baju Hartinah. Tubuh montok, badan semok Hartinah pun membuat Saiful menjadi mabuk kepayang. Diputarlah akal dan dicarilah kesempatan. Tibalah saatnya dimulai tahun ajaran. Setumpuk uang harus diusahakan untuk menebus buku-buku serta hutang yang menunggak berbulan-bulan. Ada saat dimana pilihan terasa abusrd, bias, dan klise. Hartinah membuat pilihannya. Sebuah pilihan wanita istri pengangguran berginjal remuk tiada berpenghasilan.

Cerita Bambang

Bambang baru saja naik kelas 2 SMP. Tapi Bambang sudah cukup umur untuk tahu perbuatan ibunya. Setidaknya ketika semua tetangga sudah membuat kasak-kusuk dan investigasi. Bambang adalah anak yang pintar di sekolah. Namun di sekolah pintar tidaklah saja cukup. Tanpa masalah ibunya saja Bambang sudah menghadapi permasalahan percaya diri yang cukup akut.

Teman-temannya yang lebih kaya sangat senang memamerkan kekayaannya pada Bambang. Mulai sepatu, tas, hingga sepeda BMX atau sepeda gunung. Bambang sendiri sudah biasa berjalan kaki 2,5 kilo dari rumah ke sekolah. Kulitnya hitam, sehitam aspal jalan berlubang dan bergelombang yang membelah desanya, yang tidak pernah diperbaiki semenjak rezim lama tak lagi berkuasa.

Tapi Bambang tidak sendiri. Ia bisa pergi ke desa-desa lain di lereng gunung Slamet dan menemukan banyak anak lain bernasib sama atau lebih menderita dari keadaannya sekarang.

Selamat malam kawan, bikin posting soal kemiskinan sepertinya bukan posting penting di dunia dimana orang kaya sarapan pagi nasi urap darah orang miskin, bukankah begitu?