
Sebelumnya saya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin, tidak hanya di hari yang suci ini namun untuk seterusnya di kemudian hari, semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah dan membawa manfaat bagi baik fisik maupun rohani kita semua.
Lebaran atau istilah orang Indonesia untuk hari raya Idul Fitri adalah sebuah hari yang tiba pada 1 Syawal setiap tahunnya pada kalender Islam atau Hijriyah. Di Indonesia, lebaran oleh pemerintah ditetapkan sebagai musim liburan. Dan seperti di negara-negara lain musim liburan dimanfaatkan orang untuk bepergian, sehingga kepadatan lalu-lintas meningkat di jalan-jalan antar kota. Namun di Indonesia mayoritas orang memanfaatkan musim lebaran ini untuk pergi ke kampung halaman, menemui orang tua atau keluarga, yang kemudian umum disebut dengan istilah mudik.
Mudik sering dikaitkan sebagai tradisi muslim untuk saling bermaaf-maafan pada hari raya Idul Fitri dan seperti kurang afdol rasanya apabila tidak bertemu dengan orang tua atau keluarga yang selama setahun mungkin kita jarang menemui mereka. Tidak ada kewajiban khusus sebenarnya tentang bepergian jauh ini dalam ajaran agama Islam, namun karena bertepatan dengan musim liburan, maka banyak orang memanfaatkan kesempatan ini.
Jalanan yang macet, penumpang bus dan kereta api kelas ekonomi yang saling berdesakan dan tumpang tindih, adalah pemandangan biasa dan secara rutin pula menghiasi wajah media massa baik cetak maupun elektronika. Indonesia memang negeri dongeng. Ada yang senang dan ada pula yang menyindir dan mencibir. Namun memang tidak semua hal bisa kita mengerti. Tidak semua hal yang penting bisa dihitung, dan tidak semua yang dihitung itu penting. Atau begitu kira-kira kata iklan di televisi.
Saya juga mudik. Tapi tidak seperti tahun lalu, tahun ini saya memakai jasa bus patas PO COYO, di jalan Demak 445 Surabaya. Pilihan lain di jalan Demak adalah PO EZRI. Dua-duanya adalah penyedia bus eksekutif patas AC jurusan Surabaya-Cirebon. Dua-duanya sama-sama bagus (maksudnya biar tidak disangka paid review). Tahun lalu saya memakai jasa PT Kereta Api Indonesia, dengan kereta eksekutif Sembrani. Beberapa alasan saya memakai jasa perusahaan bus tahun ini antara lain :
1. Lebih murah dari Kereta Api
Harga tiket kereta api sembrani tahun lalu adalah Rp. 320.000,- per orang, berarti saya harus menyediakan sekitar 1.280.000,- hanya untuk tiket kereta api saja. Belum lagi saya harus mengantisipasi kenaikan harga yang mungkin terjadi tahun ini. Harga tiket bus lebaran tahun ini untuk jarak Surabaya - Tegal adalah Rp. 185.000,- per orang. Artinya saya cukup menyediakan Rp. 740.000,- untuk tiket pulang pergi saya dan istri.
2. Jadwal kedatangan yang lebih bersahabat
Kalau naik kereta api dari Surabaya, maka kita akan sampai kota tegal pada tengah malam (antara jam 11.30-01.00 tergantung jenis kereta apinya), artinya dari stasiun pilihan transportasi yang tersedia hanya becak dan Taxi. Jarak yang masih harus ditempuh dari stasiun ke rumah mertua adalah 25 km (di Banjaranyar tepatnya), maka ongkos untuk naik Taxi jelas lumayan besar (kebangetan kalau sampeyan masih mau naik becak sebagai alternatif), dan belum lagi besar resiko di jalan pada tengah malam jelas lebih besar dari pada di siang hari. Sebenarnya ada juga bus kelas ekonomi dari Bandung menuju Purwokerto yang melintas selama 24 jam, namun kalau bepergian dengan keluarga sepertinya bukan pilihan utama (kalau bujangan alias pergi sendirian, saya biasanya nekat aja naik bus ini).
Dengan bus kita memasuki Tegal sekitar jam 5-6 pagi. Bus dan angkot sudah banyak berkeliaran dan jalan juga sudah lebih ramai. Belum lagi kita gak perlu membangunkan mertua atau tetangga yang lagi enak-enak tidur kan?
3. Tidak perlu ke terminal
Saya tidak pernah suka pergi ke terminal bus, entah itu Bungurasih, Joyoboyo, Pulogadung, Kampung Rambutan, Solo, Purwokerto, Jogja, atau terminal bus mana saja. Kumuh, semrawut, jorok, anarkis. Bus yang kami naiki berangkat dari agen bus di jalan Demak, dan kami turun di Mal Pasific Tegal. Ketika balik kita bisa naik dari jalan Yos Sudarso Tegal dan turun di jalan Demak yang kebetulan lebih dekat dari rumah ketimbang harus turun di terminal Bungurasih.
Saya juga menyarankan untuk anda pemakai jasa bus mungkin lebih nyaman berangkat dari lokasi agen, namun mungkin ada kendala kalau ingin berangkat mendadak (tidak pesan lebih dulu) seperti di terminal.
Adapun liburan saya di Tegal seperti biasanya sangat menyenangkan dan juga relaxing. Kadar oksigen berlebih dari hutan dan pegunungan membuat jam tidur saya melonjak dengan tajam. Hidup tanpa tivi dan komputer untuk sementara benar-benar memberi kesegaran dan banyak waktu untuk berpikir dan menyusun ulang rencana untuk kemudian dijalankan di hari-hari ke depan.
Kini saya sudah kembali ada di Surabaya, kembali di depan komputer, kembali merajut dan meniti jalan hidup, seperti hari-hari kemarin, seperti kita semua juga tentunya.
Selamat pagi teman, dimanakah engkau menyandarkan kepala malam ini?

Minal aizin walfaizin mas… hampir complete tuh resume perjalanan mudiknya…
Ada jln Demak di Surabaya ya? He..hee..aku blm pernah ke Surabaya, kalo Demak emang kota asalku
@mymoen
sama-sama mas, ya saya memang pengen menulis agak panjang hari-hari ini
@Qisthon’s blog DO follow
wah … saya kalau ke tegal lewat dong yah
wah mudik ya om!
selamat IdulFitri, mohon maaf lahir dan batin
waaa.omnya mudik juga ya.. oleh-olehna mana ni?
*takut ditimpuk om-na*
@xero dan elmo
wah biasanya klo tegal ada oleh² pilus loh
*celingak celinguk cari pilus