BREAKIN MOMENTS
1.THE ISLAND DIALOG
A : I wish that there is more …
B : More ?
A : More than just waiting to go to the island.

Dalam film The Island Lincoln Six-Echo (Ewan McGregor), merasa tidak puas dengan kesehariannya. Bangun pagi, sarapan, berangkat kerja menyuntikkan supplemen nutrisi kedalam selang yang ia tidak pernah tahu kemana tujuannya. Sambil menunggu kepergiannya menuju pulau terakhir bebas kontiminasi di bumi.
Kebanyakan dari kita, hidup dalam pola yang sama, dengan Six Echo. Bangun, berangkat ke kantor, pulang nonton sinetron, tidur, dan seterusnya. Beberapa diantara kita malah terpaku didepan komputer begitu bangun, dan baru lepas darinya ketika berangkat tidur. Disukai atau tidak, banyak dari kita hidup dalam ‘tranquility dan repetition’. Dan disukai atau tidak kita semua juga sedang menunggu keberangkatan menuju ke sebuah ‘pulau’ bernama ‘kematian’.
Namun, jarang dari kita yang seperti six echo, merasa ‘un resolved’, dan merasa ‘i wish that there was more’. Bahwa seharusnya ada yang lebih dari ini. Yang saya maksudkan tentu saja bukan uang atau kekayaan. Yang saya maksudkan adalah sesuatu yang lebih ‘bermakna’ dari itu semua.
2. 6 QUESTIONS TO ASK YOURSELF TO GET THE MOST OUT OF YOUR LIFE
6 pertanyaan yang kita tanyakan pada diri sendiri untuk mendapat yang terbaik dalam hidup. Apa saja?
Who do I love, and what am I doing about it? Siapa saja yang saya sayangi dan saya sudah berbuat apa dalam hal ini? Cepat atau lambat kita semua akan berpisah dengan orang-orang yang kita kasihi (kematian, pindah kota, dll). Manusia datang dan pergi tanpa kita tahu kapan dan bagaimana. Sudah berbuat maksimalkah kita dengan orang-orang yang kita kasihi? Saya belum.
Am I pursuing my dream, or is fear stopping me? Apakah saya sedang mengejar cita-cita, atau ketakutan saya menghalangi saya? Kebanyakan dari kita malah sudah lagi tidak punya cita-cita. Dan memang ketakutan yang menghalangi kita. Kita takut akan kegagalan. Saya takut akan kegagalan, saya takut kalau mengejar cita-cita, saya malah menghancurkan apa yang saya punyai sekarang, dan saya biarkan cita-cita saya berlalu begitu saja.
Am I doing something that matters? Apakah saya mengerjakan sesuatu yang berarti? Pertanyaan ini benar-benar mengejutkan saya. Saya memang sedang mengerjakan sesuatu, saya mempunyai pekerjaan, aktifitas, dan rutinitas,bahkan pekerjaan sampingan, tapi apakah semuanya berarti? Saya pikir tidak. Saya hanya mengejar uang. Saya sungguh orang yang dangkal.
What am I doing to help others? Apa yang kita perbuat untuk menolong orang lain? Ironis memang, namun kita tidak akan pernah menikmati hidup kalau hanya meraih semua untuk diri sendiri, tapi tidak kita amalkan untuk menolong orang lain. Di Indonesia, banyak orang miskin, orang susah, anak-anak putus sekolah, sudahkah kita menemui mereka, sudahkah kita dengar mereka dan kita kurangi penderitaan mereka? Saya belum.
Am I as good a person as I want to be? Apakah kita orang yang baik sebagaimana kita maui? Jawabannya jelas. Saya tidak.
What am I doing to live life with passion, health and energy? Apa yang saya perbuat supaya bisa hidup dengan gairah, kesehatan, dan energi? Sering kali saya menjadi orang yang apatis, maka saya tidak punya gairah atau energi. Setidaknya seringkali.
3. TEN’INOUHU NO KIWAMI

Sumber : Last Episode of Prince of Tennis
Ten’inouhu no Kiwami atau the wisdom of perfection, adalah sebuah kalimat yang bisa anda temui dalam komik The Prince of Tennis. Ten’inouhu no Kiwami adalah the ultimate technique, yang menjadi pemungkas, dalam komik ini. Sebuah jurus pamungkas yang ditunggu-tunggu sejak awal permulaan cerita, yang ternyata tidak lain dan tidak bukan, ternyata bermain dengan ikhlas or play … with nothing to loose. Surpassing every limit, by not creating any.
Ketika kita kecil, kita semua hidup dalam fase ini. Fase dimana kita semua hidup dalam ‘nothing to loose’. Semua hanya soal bersenang-senang, atau sekedar iseng, bukan cuma di mulut seperti yang sering kita ucapkan ketika kita dewasa (yang sebenarnya menjadi pengingkaran akan apa yang ada di hati kita, kelihatan kok, semakin sering diucapkan, semakin kelihatan kalau kita bohong), tapi kita lakukan dengan refleks, dan terjadi begitu saja.
4. PARADOKS KUCING Erwin Schrödinger
Sumber :
Sedikit tentang Mekanika Kuantum dan Filosofinya (1/5)
Sedikit tentang Mekanika Kuantum dan Filosofinya (2/5)
Nuwun sewu mas Sora, saya numpang copas (sudah saya copas, pangkas sana-sini juga, soalnya kepanjangan sih).
Sebelumnya baca dulu : Persamaan Schrödinger
Menurut Max Born, fungsi gelombang Schrödinger menunjukkan bahwa setiap benda memiliki elemen probabilitas. Dalam konteks kuantum, kita bisa mencontohkannya dengan posisi elektron dalam atom. Menurut Born, semua tergantung pada probabilitas. Ini membuat sebagian fisikawan terguncang — secara tidak langsung Born menyatakan bahwa terdapat lebih dari satu kenyataan yang bisa terjadi.
Melihat kisruh ini, Erwin Schrödinger turun tangan. Ia menantang Born dengan melempar sebuah paradoks:
“Misalnya terdapat sebuah kotak. Di dalamnya kita siapkan labu gas beracun dan palu yang terhubung dengan pencacah Geiger. Jika pencacah Geiger berbunyi, maka palu akan jatuh dan memecah labu gas beracun.
“Kemudian kita masukkan seekor kucing bersama zat radioaktif, yang probabilitas peluruhannya sebesar 50% dalam satu jam.
“Dengan demikian, setelah satu jam, kemungkinannya sama — yakni gas beracun mengalir (kucing mati) atau gas beracun tetap tersimpan (kucing hidup).
“Ini berarti kucing mati sekaligus hidup. Bagaimana mungkin ini terjadi?”
Inilah paradoks kucing Schrödinger. Dengan harapan menumbangkan tafsiran Born, Schrödinger menyampaikan sebuah skenario ekstrim yang tak masuk akal. Mungkinkah kucing mati sekaligus hidup di satu waktu?
Sejak saya pertama kali membaca tentang paradoks kucing ini sekitar 6 tahun yang lalu saya selalu merasa terganggu, karena apa? Karena kondisi yang saling tumpang-tindih ini sangat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saya pikir kebanyakan stress yang dialami manusia juga dikarenakan kesulitan yang sama dalam menentukan probabilitas yang ada dengan kenyataan yang terjadi. Saya tahu setidaknya stress yang saya alami sehari-hari tidak jauh dari paradoks semacam ini.
Para ilmuwan kemudian menyebut kondisi campuran ini sebagai superposisi keadaan. Fokus kini teralih pada Max Born — mampukah ia menjawab tantangan?
Di luar dugaan, Born ternyata bisa menjawab dengan tangkas.
“Jika tutup kotak dibuka, maka kita akan tahu keadaan si kucing: apakah kucing sudah mati, atau masih hidup. Di sini cuma ada satu kemungkinan yang bisa jadi kenyataan.
“Probabilitas kuantum berfungsi sebagai perkiraan, tetapi pengukuranlah yang memberi kepastian.”
Intinya, menurut Born, hanya ada satu kemungkinan yang boleh mewujud. Apakah kucing mati, atau hidup? Tidak mungkin dua-duanya terjadi bersamaan.
Probabilitas kuantum adalah petunjuk. Tetapi, kenyataan cuma ada satu! Ini jelas meruntuhkan klaim Schrödinger bahwa kucing terjebak antara fase “hidup” dan “mati”.
Tapi, benarkah demikian?
Para fisikawan umumnya sepakat bahwa kenyataan yang terjadi hanya ada satu, terlepas dari banyaknya kemungkinan yang bisa terjadi.
Sepakat, saya setuju, bagaimanapun juga harus ada satu kenyataan, karena saya tidak hidup dalam multiple concsious kan? Beruntung mas Sora menulis tentang keruntuhan superposisi.
Keruntuhan Fungsi Gelombang
Lebih lanjut: Wave Function Collaps
Ketika superposisi terjadi, setiap kemungkinan memiliki sebuah “nilai”. “Nilai” ini bersifat unik, tertentu, dan menghubungkan dua keadaan — yakni masa kini dan masa depan.
(dalam matematika, konsep ini diwakili oleh eigenvalue)
Setelah pengamatan dilakukan, maka fungsi gelombang akan tereduksi menjadi sebuah keadaan tunggal (eigenstate). Inilah yang hasil akhir yang bisa kita amati.
Keruntuhan ini mewujudkan sebuah probabilitas secara fisik. Di sisi lain, probabilitas lain yang sebelumnya ada kini terkalahkan: mereka kehilangan makna fisik dan menghilang.
Nah, inilah yang selama ini selalu saya pakai dalam menyimpulkan kenyataan. Saya menjadi seorang reduksionis. Saya selalu menganggap kejadian yang tidak terjadi sebagai kehilangan makna fisik dan menghilang. Yang terjadi kemudian adalah bahwa saya selalu hidup dalam ada dan tiada. Hidup seperti sayur tanpa garam. Yang ada hanya sayur, karena garam kehilangan makna fisik dan menghilang dalam sayur. I can tell you … it is not pleasant to life such a life.
Saya tentu saja bisa berpaling pada penjelasan metafisik dan supranatural, dan seperti ekstasi penjelasan-penjelasan itu hanya mampu menenangkan pikiran saya untuk waktu yang singkat, saya masih butuh ’sesuatu yang lebih’.
Luckily there is still more to come.
Dekoherensi Kuantum
Lebih lanjut: Quantum Decoherence
Teori DK #1: Superposisi di Skala Kuantum
Ketika sebuah sistem kuantum (e.g. atom, elektron) mengalami superposisi, setiap kemungkinan memiliki sebuah “nilai”. “Nilai” ini bersifat unik, tertentu, dan menghubungkan dua keadaan — yakni masa kini dan masa depan.
(sama dengan KFG)
Meskipun demikian, semua kemungkinan tersebut saling terikat dan memiliki fasa yang sama.
Apabila pengamatan dilakukan, maka salah satu probabilitas akan menyesuaikan fasa dengan lingkungan. Sedangkan yang lainnya mengalami pergeseran fasa, menjadi tak bisa teramati oleh kita.
Ah, ternyata ada opsi lain, saya baru tahu …
Teori DK #2: Superposisi di Skala Makro
Sebenarnya, superposisi di skala makro (e.g. kucing Schrödinger) tidak benar-benar terjadi.
Superposisi berawal di skala kuantum. Meskipun demikian, superposisi ini tak pernah bertahan lama — selalu ada gangguan-gangguan dari luar yang bisa merobohkan superposisi tersebut.
Dunia makro memiliki banyak gangguan/interaksi dengan alam: cahaya, panas, statik, dan lain-lain. Probabilitas kuantum akan terkikis oleh gangguan-gangguan ini sebelum sempat “beraksi” di dunia nyata.
Hell yeaaaaahhhh !!!!
Entah kenapa, sudah lama sejak terakhir saya merasakan energi seperti ini. Adanya dekoherensi kuantum (saya benar-benar baru tahu) ini walaupun hanya sedikit menjelaskan namun yang terpenting adalah bahwa ini menawarkan sebuah pilihan.
Maka sayur kini tidak harus menjadi sayur tanpa garam, karena garam bukan menghilang dan kehilangan makna fisik tapi garam mengalami pergeseran fasa, menjadi tak bisa teramati oleh kita. Maafkan analogi yang sangat tidak nyambung ini, tapi inilah sejauh mana saya bisa meresapi semua hal diatas.
Dari jauh-jauh terdengar lirih suara melantun,
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
Selamat siang, kawan. Sejauh apa pikiran membawamu terbang pagi tadi?

Do you do blogroll exchanging? If you want to exchange links let me know.
Email me back if you’re interested.
dari tulisanmu om spt menjwb pertanyaan ttg “empty feeling” yg kadang qta rasain dlm hidup
good explanation
meskipun kepanjangan…
@angie
kepanjangan yah,
, lagi kepingin sih. Kebanyakan masih ambil sana-sini sih, belum bisa nulis sendiri.
wah… sekali2 dunk… nuliss nya pake spidol warna merah… hehe
wah…3x
dapat ide darimna nih artikel kayak gini..?
btw
bagus banget
tq infonya..salam kenal n sehat selalu
@firanza
ini namanya posting orang nganggur
@konsultasi kesehatan
terima kasih, dan kita sama-sama saling mendoakan pak
Mas
Tau gak, tataran seperti ini memang pada dasarnya kita mempelajari dalam tataran keilmuan. Padahal dari barat dan dari timur, descartes dan imam al-ghazali sendiri telah meragukan panca indra sebagai alat ukur. Meragukan panca indra? meragukan panca indra itu berarti meragukan logika…
Dan pertanyaan itu, mekanika kuantum atau kucing schro itu adalah pertanyaan tentang eksistensi manusia. Dan pertanyaan paling Hak itu dan paling mengganggu manusia itu adalah : Apa yang terjadi setelah kita nanti mati.
That’s all.
Dan siapa yang bisa menjawab? Kita tanyakan pada rumput yang bergoyang atau kita menunggu wahyu dari yang ilahiah?
yah, tentu tidak. Dan apa titik akhirnya? Jawabannya adalah ikhlas dan percaya. Tuhan berikan yang terbaik itu saja. Kita ada dan kita hidup saat ini, apakah tak mungkin kita akan menjadi abadi di akhirat kelak? Siapa yang bisa menjawab. Tapi saya katakan Ya, tanpa logika.
Setidaknya pertanyan filosofis seperti ini tidak terlalu mengganggu saya lagi
@arman
Born in Nice in 1928, Armand Pierre Fernandez showed a precocious talent for painting and drawing as a child.
wah … saya dapat komentar dari Arman Pierre, seniman kontemporer yang kondang itu ? wah wah wah …. Arman Pierre berbahasa Indonesia .. keren sekali …
sering karena kita sibuk mencari uang untuk membiayai kehidupan kita, kita sampai lupa mewujudkan cita-cita kita.