Pada suatu masa, di suatu negeri nun jauh disana, yang namanya SANGAT PASTI JELAS BUKAN INDONESIA, orang-orang sedang ramai membicarakan tentang seorang laki-laki muda nan lugu.
Laki-laki lugu ini entah sengaja atau tidak sering membuat kalimat-kalimat lucu, yang justru membuat dirinya berada dalam posisi dimana ia menjadi bahan tertawaan. Dan orang-orang pandai lagi bijak, menyindirnya dengan piawai lewat berbagai macam karya komedi dan satir. Konsep bahwa komedi sering dipakai untuk menyampaikan kebenaran memang sudah sejak jaman dulu dipakai, dan dipopulerkan baik oleh Abu Nuwas ataupun Nasarudin Hoja.
Tapi entah kenapa kadang kita tidak berpuas diri dengan komedi ataupun satir. Kita harus mengumpat, mencaci, kalau perlu kita pertontonkan gambar-gambar memalukan dan sebisa mungkin kita rendahkan derajatnya serendah-rendahnya, kalau perlu saking kita rasa begitu jahat dan berbahayanya laki-laki ini maka kita minta bantuan setan dan iblis, karena hanya setan dan iblis yang sangat paham dan berpengalaman tentang cara dan bagaimana melucuti kehormatan dan menghinakan manusia.
Urusan laki-laki ini punya keluarga, punya anak, punya istri, KITA UCAPKAN SAJA PEDULI SETAN. Kalau perlu kita kubur hidup-hidup, lalu kita cincang tubuhnya jadi empat puluh bagian. Lalu beramai-ramai kita perkosa istri dan anak-anaknya, kalau perlu anjingnya, kucingnya, dan semua hewan peliharaannya kita jadikan pemuas nafsu libido impoten kita.
UNTUNG BUKAN DI INDONESIA!

