ILIR-ILIR
Lir ilir … lir ilir … tandure wus sumilir
lir- ilir maksudnya kita disuruh ngelilir (bangun dalam bahasa jawa), sudah waktunya tandur (menanam) … waktunya menanam, menanam kebaikan, menanam kerendah hatian, menanam kejujuran, menanam kedisiplinan, menanam apa-apa yang baik.
Tak ijo … royo-royo … tak sengguh temanten anyar
Ditanam, dirawat biar hijau … biar enak dipandang … dan diperlakukan seperti temanten anyar (pengantin baru), disayang-sayang dengan sepenuh hati.
Cah angon … cah angon … penekno blimbling kui
Kenapa cah angon, kenapa bukan pak tumenggung atau pak adipati. Anda tau orang yang angon kambing atau bebek? Figure cah angon adalah figur yang diharapkan, tidak perlu satrio piningit atau ratu adil, cukup cah angon yang perhatian dengan apa yang diamanahkan apa yang dia gembalakan. Cah angon disuruh menek (memanjat) blimbing. Tidak disuruh nggetek, apalagi menebang, harus memanjat, harus bersusah payah untuk memetik buah. Kenapa blimbing? Kenapa bukan delima, atau kelapa? Karena blimbing bintangnya lima … apa yang dicerminkan oleh lima? Silahkan anda pilih sendiri (bisa saja rukun islam yang lima, pancasila, atau apa saja)
Lunyu-lunyu penekno … kanggo mbasuh dodotiro
Biar licin ya tetep harus dipanjat, gak boleh curang. Gak boleh malas. Buat apa … buat membasuh luka … membasuh noda … membasuh apa-apa yang tidak sedap dipandang mata.
Dodotiro … dodotiro … kumitir bedahing pinggir.
Bedah … sobek-sobek di pinggirannya. Lihat nasib-nasib pinggiran, pinggiran desa, pinggiran kota, pinggiran negara atau apa saja yang letaknya di pinggir. Tercabik-cabik, sobek-sobek … dilukai oleh orang luar, oleh orang dalam.
Dondomono, jlumatono, kanggo sebo mengko sore.
Ya harus didondomi (dijahit), dirawat, gak dibiarkan terbengkalai, karena hari sudah menjelang sore, dan sore menjelang malam. Dan ketika hari berganti malam, banyak kesempatan berlalu. Hari tidak bisa dikembalikan lagi ke siang apalagi ke pagi.
Mumpung padhang rembulane … mumpung jembar kalangane …
Kalau padhang rembulannya, semua masih jelas terlihat, masih bisa melihat muka satu sama lain. Mumpung masih luas kesempatannya.
Yo surako … surak … iyo ….
Ayo sorak … ayo gembira … gak usah sedih … kita surak-surak …
Demikian sejengkal syair ilir-ilir yang konon katanya karya sang Sunan Ampel. Jaman dahulu orang memakai syair jawa untuk dakwah islam di jawa. Harapan akan asimilasi budaya dan tersampaikan pesan moral yang luhur tentu saja menjadi motivasinya.
Saya sendiri nulisnya dengan ingatan yang setengah-setengah dari dulu ketika masih melanglang buana di jamaah padhangmbulan dan jamaah maiyah.






This is a website of collected resource, opinion, personal writings, and just common updated general information blog of SPIDOLHITAM



marto
| March 31st, 2008 at 12:03 pm #
begitu ya …. emh ….
kurang lebih … kurang dikit dah. kali’ ….
yang bikin wali ? mungkin ya. sang sunan ? bisa jadi bukan ya. mungkin….. kali’ …. wong wali banyak.
kalau yg bikin wali nggak akan semudah itu di artikan dengan maksud yang wantah dan lugu. pasti panjang liku2 telaahnya ya ?
kalau mudah bisa jadi salah arti’in
atau kalau bener brarti yg bikin bukan wali ….
terlalu mudah jadinya kan mengukur wali dengan sepenggal karyanya … hehe … kali’ …
marto
| March 31st, 2008 at 12:12 pm #
tp asik … yang lain lagi dong …. “yen in tawang … ” atau karya abadi jawa lama yg menurut cerita karya para wali ….. dtunggu ya oom… biar tambah warna ya …
Siti
| April 21st, 2009 at 10:22 am #
ini gak bisa tapi sok pinter…..
Ilir-2 kok diterjemahkan asal aja semau-2nya pikirannya….,
itu syair agung sekali…itu wejangan mas…..
jangan sok pinter donk…..
hendi
| August 17th, 2009 at 8:13 pm #
Syair-syair ini diciptakan oleh sunan ampel dan sunan kalijaga, dua dari 9
wali yang ada di jawa pada masa lampau. berikut syair-syair dan
terjemahannya.
Ilir-ilir
Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure (hu)wus sumilir
(BI) Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi
(MS) Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan
bergerak. Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah
siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan
Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
BI) Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin
baru
( MS) Hijau adalah warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini
digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang
melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya.
Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi
(BI) Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu.
(MS) Yang disebut anak gembala disini adalah para pemimpin. Dan belimbing
adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun Islam dan
sholat lima waktu. Jadi para pemimpin diperintahkan oleh Sunan Kalijaga
untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam
secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima
waktu.
Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira
(BI) Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu.
(MS) Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan
pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman
dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain,
terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet. Dengan kalimat ini
Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan
lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin
jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama
mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya.
Walaupun bukan sembarang pakaian biasa.
Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir
(BI) Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek
(MS) Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang
meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka
digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.
Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
(BI) Jahitlah, tisiklah untuk menghadap (Gustimu) nanti sore
(MS) Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena
itu disebut ‘paseban’ yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga
memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah
rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk
bekal menghadap Allah SWT di hari nanti.
Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane
(BI) Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang
(MS) Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan,
perbaikilah kehidupan beragamamu.
Ya suraka, surak hiya
(BI) Ya, bersoraklah, berteriak-lah IYA
(MS) Di saatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti,
sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragamanya dengan
baik untuk menjawabnya dengan gembira.
***
Ilir ilir
Ilir ilir, ilir ilir, tandure wus sumilir
Tak ijo royo royo, tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekna, kanggo basuh dodot ira
Dodot ira, dodot ira, kumitir bedah ing pinggir
Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane
Ya suraka, surak hiya
***
sumber : youtube.com & http://sad-ewing.staff.ugm.ac.id/