29 Feb, 2008  |  Written by spidolhitam  |  under PERSONAL

Ada yang aneh, hilarious, apa ya?

Adalah hal yang manusiawi untuk mengidolakan seseorang. Kita terlahir mengidolakan orang-orang yang dekat dengan kita (ayah, ibu, kakak, dst), kita mengagumi mereka dan terinspirasi oleh mereka.

Seiring waktu manusia tumbuh, dan menemukan hal-hal baru. Kita mengidolakan orang-orang yang baru, yang mungkin kita temui di sekolah, di mesjid, di koran atau televisi.

Hal yang sama terjadi ketika memulai aktivitas-aktivitas baru. Saya bergabung di komunitas Deviantart pada 11 November 2006. Saya menemui dan mengidolakan orang-orang yang saya lihat karya-karyanya disana. Sungguh gembira saat orang yang saya idolakan membalas comment, mampir, atau menaruh link deviantart saya ke dalam profile mereka. Apalagi kalau idola-idola itu (misal : behybrid, jun1art, andinobita) juga mampir ke blog ini.

Bagitu juga dengan blogging. Saya rajin mampir ke sebuah agregator blog, dan menemukan banyak orang yang tulisannya sangat menarik hati saya. Saya akhirnya mengidolakan mereka juga. Mereka-mereka ini orangnya asik. Well, saya pikir semuanya asik, saya ga membeda-bedakan, terlepas dari kadang mereka-mereka ini menyenggol spion temannya, atau apapun … mereka ini tetap asik. Pokoknya ASIK (premis tidak ilmiah).

Narsis di blog itu boleh gak sih? Kalau menurut saya narsis di blog masih lebih mending dari pada beli mobil baru dan parkir di depan rumah tetangga … Kalau ada orang yang tidak suka dengan narsisme anda … tinggal close window atau buka jutaan link lain di internet … gampang kan?

Omong-omong soal narsisme, please leave mr budi rahardjo alone okay guys … all you have to do is … scroll your mouse. Makasih pak BR dah mampir ke sini juga. Kasian tuh pak BR saking bingungnya sampe nyasar di blog nanggung, ga jelas, dan gak ilmiah ini.

27 Feb, 2008  |  Written by spidolhitam  |  under PERSONAL

Wedew … ngomong planet lagi dah. Oke … anda tahu apa yang bikin blog-blog seperti priyadi, budi rahardjo, sora, sergio suanez, dll itu begitu ramainya dikunjungi orang?

Well, saya bukan expert, IMO, sekali lagi IMO (In My Opinion), blog-blog mereka itu punya metodologi (ilmiah). Anda yang sudah pernah lulus SMP pasti tahu tentang metodologi ini. Tentang mengamati gejala alam, menyusun hipotesa, mengujinya dan seterusnya.  Wait … don’t get too futuristic. Kita sederhanakan saja ketika mengajukan sebuah premis atau pendapat, seorang yang paham akan metodologi akan memperkuat pendapatnya selain dengan fakta yang diterima indranya …. dia juga menggunakan metodologi dan pendapat atau teori atau apapun milik orang lain yang baik popular maupun kontradiktif, namun memperkuat pendapatnya. Itu yang bikin orang jadi ilmiah. (Not getting simpler isn’t it?)

Kalau poko’e … yang penting … begini saja … atau kok repot … jelas merupakan opini subyektif, lemah, dan sering kali emosional, apalagi disertai dengan bentakan atau ketikan dalam huruf All Caps. Walaupun sah-sah saja. Toh … yang penting menang.

 Shut UP ! Stay out of this !

Trolling … sering kali mendera blog-blog dengan metodologi seperti ini. Ciri-cirinya ya itu tadi … bentak-bentak, URL ga jelas, keroyokan, dan pastinya gak nyambung.

Apakah ada metodologi ilmiah dalam bidang yang saya geluti yakni seni rupa digital? Tentu saja ada, karenanya kita perlu belajar, dan belajar dari mereka yang  expert (see my masters links or deviant links), dari artikel-artikel news dari para seniman senior, teori-teori dasar dari Francis DK Ching tentang bentuk dwi matra dan tri matra, dan banyak lagi lainnya.

Apakah perlu sesusah itu? Well itu sih terserah yang menjalaninya aja. Saya sendiri sudah lama terlempar dari jalur formal dan harus belajar lompat-lompat. Tapi IMO, metodologi itu perlu. Metodologi bisa aja salah, bisa aja kontroversial, bisa aja keliatan ngawur, norak, dan bahkan … gak cool …. tapi metodologi itu perlu … IMO.

CMIIW : Correct me if I’m wrong.

26 Feb, 2008  |  Written by spidolhitam  |  under PERSONAL

‘Ini bukan demokrasi’ …. saya menemukan kutipan tersebut dari mas Priyadi, dulu ketika isu internet marketing masih rame merebak di kalangan blogger indonesia. Namun kemudian beliau merevisi dan menulis soal demokrasi dan blogging.

Isu demokrasi dan publik domain adalah isu yang sangat membingungkan. Katakanlah soal telanjang. Mau telanjang mau tidak, terserah kita kan badan-badan kita sendiri. Tetapi ketika kita telanjang dalam daerah publik, kita terbentur dengan domain publik. Beberapa tempat hiburan menyajikan ‘orang telanjang’ sebagai bagian dari layanan mereka namun tentu saja mereka tidak menyajikannya di ruang terbuka publik.

Di dalam sebuah komunitas, terdapat batas-batas domain yang walaupun absurd, namun sering mengundang terjadinya konflik ketika batas-batas domain itu dilanggar. Orang Indonesia termasuk ‘tidak dewasa’ dalam memahami batas domain publik ini. Jujur saja, berapa persen dari kita yang mematuhi aturan kecepatan maksimum di dalam kota misalnya?

Kita sering berkata, punya-punyaku sendiri, masa bodo, emangnya gue pikirin, sok lu, dan perkataan-perkataan lain. Padahal kita harus jujur, kalau orang lain berkata seperti itu kepada kita, nyesekin kan?

Anda pernah mampir ke http://www.encyclopediadramatica.com/? Di situs ini pemahaman kita atas batas-batas domain pribadi dan  domain publik benar-benar diuji. Coba cari isu-isu seputar anda dan temukan siapa tahu anda akan menemukan batas domain anda di usik dalam batas-batas yang benar-benar akan menguji kesabaran anda.

Ah … absurd kan? Mending pasang headset ah …. lihat filem ….