Barusan baca tulisan mas Priyadi tentang ‘ILUSI FINANSIAL‘, dan saya tidak bisa lebih sependapat lagi. Walaupun ilustrasi yang diberikan adalah tentang perusahaan penjual koran, dan memang belum ada penjual koran yang menjual jasanya dengan cara seperti itu, tapi banyak perusahaan yang menjual produk atau jasanya dengan cara ‘ILUSI FINANSIAL’ seperti itu. Kalau boleh saya simpulkan sendiri ILUSI FINANSIAL yang dimaksud adalah ketika seolah-olah konsumen diberi harga lebih murah, namun kenyataannya para konsumen justru membayar lebih mahal, atau minimal sama dengan produk yang sama yang sekilas terlihat lebih mahal.
Dan ini (ilusi finansial) tentu saja sudah terjadi di semua lini perekonomian di Indonesia. Katakanlah soal belanja keperluan sehari-hari. Orang berbondong-bondong ke supermarket untuk memburu ilusi yang mereka anggap lebih murah daripada kalau belanja di toko kelontong, atau kios-kios kecil. Walaupun secara parsial mereka mendapat harga lebih murah namun kenyataannya mereka tidak tambah berhemat. Pikiran mereka di kelabui dengan harga ilusi berkoma-koma, sekian rupiah yang mereka hemat dari pembelian per item tapi tetap saja mereka mengeluarkan uang lebih banyak dari biaya transport, parkir, cemilan, bahkan kesenangan-kesenangan yang mereka pikir berhak mereka peroleh dari ‘ilusi penghematan’ tadi. Karena saya sudah berhemat Rp 3.456,87 saya berhak dong mengkompensasi dengan beli es krim Rp.4.999 dengan milk shake Rp.9888,88 dan tentu saja belum lengkap kalau saya tidak mencomot produk yang sedang diobral murah-murah, koran misalnya dengan harga Rp.1.000 (padahal di rumah sudah langganan). Ilusi finansial terjadi dimana-mana. Anda berpikir anda berhemat, tapi kenyataannya anda berboros. Anda terus menerus membeli barang-barang yang tidak anda butuhkan karena dilabeli ‘paling murah’, ‘hemat 50%’, beli ‘3 dapat 1′, dan seterusnya.
Saya pikir saya coba menambahi bahwa ‘ilusi finansial’ tidak hanya soal membeli barang tapi juga soal mencari uang. Kalau mas Priyadi jelas sikapnya terhadap MLM, skema piramida, bahkan soal ‘internet marketing’, kalau saya kadang masih naif. Kadang saya masih berharap bahwa ada skema murni, yang tulus, yang tidak mencurangi, tidak acuh, tidak buta, tidak ‘yang penting dapet’, dan sebagainya, tapi selalu berhadapan dengan tembok buntu.
Apakah naif kalau berharap bahwa tidak selamanya manusia akan mengejar ilusi? Apakah naif berharap bahwa kita di apresiasi sesuai dengan apa yang kita karyakan? Apakah naif kalau bercita-cita … karya saya juga mahal? Karya saya juga layak dijual? Meskipun karya saya mungkin tidak sebagus mereka, meskipun otak saya tidak sepintar otak mereka?
Mungkin naif ….
(Innalillahi wa inna ilaihi rojiun … semoga keluarga bapak jenderal muhamad soeharto diberi kekuatan untuk menghadapi cobaan, dan semoga Allah memberi yang terbaik untuk seluruh bangsa Indonesia)