Dalam semua buku tentang cara mengatur keuangan yang pernah saya baca, kesemuanya sebenarnya terletak pada dua hal. Dua hal itu adalah :
1. Melakukan alokasi aset
2. Menunda kesenangan
MELAKUKAN ALOKASI ASET
Ada sebuah pepatah ‘jangan taruh semua telurmu dalam satu keranjang’, jadi kalau keranjangnya pecah, kita masih punya keranjang yang lain. Begitu pula dengan aset dan kekayaan. Sekecil apapun penghasilan anda (baik itu gaji ataupun yang lain), penghasilan tadi harus dibagi-bagi dalam :
1. Dikonsumsi
2. Mencicil hutang
3. Ditabung
4. Diinvestasikan
Khusus bab investasi, kita banyak mengenal bentuk investasi, baik itu yang konvensional seperti membuka usaha atau berdagang, sampai yang canggih dan kompleks seperti pasar uang, bursa saham, reksadana, atau deposito berjangka. Namun semua itu memerlukan dana yang cukup besar (setidaknya untuk saya).
Dengan rating penghasilan saya sekarang, yang cocok dan sudah saya lakukan sejak awal menikah (dua tahun yang lalu), adalah berinvestasi dalam bentuk emas. Berinvestasi dalam bentuk emas tidak membutuhkan dana besar, setidaknya kalau memang uangnya sedikit, emas yang paling kecil satuannya adalah hingga setengah gram. Emas mudah didapatkan karena tersebar dimana-mana, dan sangat mudah dicairkan. Emas sangat stabil terhadap semua bentuk komoditi lain seperti properti, mata uang asing, harga minyak dunia, bahkan inflasi. Bahkan ketika butuh dana cepat, satu-satunya barang yang ketika digadaikan nilainya sama dengan nilai jualnya, … ya cuman emas, gak perlu disurvey, cukup ditimbang dan diteliti keasliannya sebentar.
Ketika awal saya menikah apalagi setalah kelahiran anak pertama, jumlah penghasilan saya hanya sedikit diatas UMR, dan tentu saja dibawah angka hidup layak yang dikeluarkan Biro Pusat Statisktik dan Departemen Sosial, apalagi nilai kebutuhan hidup yang ditetapkan rata-rata bank di Indonesia. Hutang saya menumpuk dimana-mana. Nasehat orang tua biar sedikit kita alokasikan penghasilan ke bentuk emas. Kombinasi antara harga BBM yang terus naik yang diikuti dengan inflasi, mengakibatkan nilai emas terus merangkak naik. Kalau dulu harga emas cuma sekitar 120 ribu per gram, kini menjadi 190 ribu pergram, maka setidaknya nilai aset saya, seimbang dengan jumlah hutang yang saya cicil dengan rutin setiap bulannya. Bagaimana dengan halal haramnya? Membeli emas lain dengan berjudi, harga emas bisa naik dan bisa turun sesuai inflasi. Ketika harga emas naik, berarti terjadi inflasi dan nilai mata uang melemah terhadap emas, dan sebaliknya kalau turun berarti terjadi deflasi yang artinya harga barang-barang kebutuhan yang lain juga turun. Emas sendiri hanyalah bentuk lain dari uang, uang disepakati banyak negara sebagai cadangan devisa, sebagai alat tukar terhadap minyak, dst. Gampangnya, kalau anda gak punya emas, ya anda gak punya uang.
Bentuk ivestasi bermacam-macam dan anda bisa memilih mana yang cocok dengan keadaan finansial anda.
MENUNDA KESENANGAN
Anda hanya bisa melakukan alokasi aset kalau anda bisa menunda kesenangan, bukan berarti tidak bersenang-senang sama sekali. Namun kesenangan adalah hal yang harus dikendalikan, bukannya anda yang terjebak didalam kesenangan. Alat-alat elektronik bisa saja bermanfaat dan menjadi aset yang menghasilkan selain anda bisa bersenang-senang dengannya. Namun jangan terjebak, sehebat apapun alat elektronik yang anda punya, beberapa bulan lagi akan selalu tergeser dengan alat-alat baru yang lebih hebat, dan nilainya akan selalu menurun seiring waktu, dan menjadi beban karena anda harus membayar biaya listriknya, dan juga biaya perbaikan dan pemeliharaannya. Pertanyaannya? Sudahkah alat-alat elektronik anda menghasilkan uang untuk anda?
Anda mungkin bertanya, ” La kalau ditunda-tunda terus, kapan dong saya bersenang-senangnya? ”
Banyak orang bersenang-senang seakan-akan mereka akan mati besok pagi, tapi mereka malah gak mati-mati, mereka hidup sampai tua, dan ketika mati mereka gak meninggalkan warisan sepeserpun kepada orang-orang yang ditinggalkan. Malah ninggalin hutang. Wah, saya juga masih punya hutang nih, :D.
Tulisan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri sebagai pengingat dan motivasi untuk terus maju, dan saya sangat mendambakan nasehat-nasehat dari pembaca semua.
Wallohu ‘alam bi showaf, Wassalamu ‘alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

