Karena banyaknya request kali ini saya gak nulis soal sepak bola.
SUBSIDI SILANG SUBSIDI NGILANG
Kenapa kita perlu mengkritik kebijakan pemerintah sekali-sekali? Apakah karena kita benci kepada pemerintah? Tentu saja bukan karena itu. Sebuah kebijakan perlu dikritisi supaya kebijakan itu menjadi kebijakan yang handal dan matang ketika diberlakukan ke masyarakat.
Kebijakan subsidi silang sebenarnya sudah lama diberlakukan oleh pemerintah sejak beberapa periode kepresidenan yang telah lewat. Dilihat dari kacamata teori manapun, kebijakan subsidi silang adalah kebijakan carut marut dan benang kusut. Subsidi silang menunjukkan bahwa ada gelembung yang sangat besar di satu sisi dan lubang menganga di sisi lain. Subsidi silang adalah nama lain dari gali lubang dan tutup lubang.
Yang mengejutkan, ketika angka kemiskinan dan pengangguran semakin naik, Indonesia malah mencatatkan beberapa nama ke dalam daftar manusia terkaya 2007 versi majalah Forbes. Salah satunya menjabat menteri dan justru bertambah kaya ketika ketika salah satu cabang usahanya tersandung masalah kemanusiaan paling besar sepanjang sejarah ketika ribuan orang diusir secara paksa dari rumahnya karena lumpur yang meluber dan menggenangi desa-desa mereka yang sampai sekarang belum berhenti.
Apa yang salah dengan negeri ini? Pak wapres bilang yang punya mercy dan volvo dilarang pakai premium, bukannya dari dulu pak? Mana ada pemilik mercy mau ngantri panjang beli premium? Lain lagi dengan Pak pres yang asik bikin lagu dan ciptaan-ciptaannya dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi paling mahal di negeri ini. Dan di Tangerang, rakyat kecil yang stress menyamar jadi suporter sepak bola dan membabi buta melempar batu bata ke arah superter tim tamu. Hebat sekali.
Kembali ke urusan subsidi silang. Pendidikan gratis untuk orang miskin akhirnya menjadikan alasan untuk menjauhkan orang miskin dari peluang merubah nasib dengan semakin buruknya mutu pendidikan dan jauhnya kesenjangan antara sekolah-sekolah elit dan sekolah-sekolah gratis. GRATIS KOK MINTA BAGUS !!! Sama dengan nasib raskin yang dikorupsi pak lurah. Kartu keluarga miskin yang harus bayar kalau mau dapet dan seterusnya.
Jadi bagaimana dong? Jangan tanya saya. Sebagian besar otak saya kan masih harus dipakai untuk menghasilkan uang untuk mencicil hutang di koperasi kampung, menafkahi anak dan isteri, belum lagi buat sekali-sekali bikin gambar untuk relaksasi dan tambahan beberapa lembar dolar. Cobalah bertanya kepada menteri agama yang penghasilan resminya saja puluhan juta tapi malah memaki wartawan soal kusutnya makanan jamaah haji. Tanya kepada ketua PSSI yang dipenjara tapi gak mau mundur dari posisinya. Tanya ketiga terpidana mati kasus bom Bali yang sekarang konon makin fasih bacaan al-qurannya dan menyejukkan hati para tetangga napinya. Tanya ke artis terkenal yang tertangkap lagi karena kasus narkoba. Banyak orang yang bisa ditanya asal jangan tanya ke saya ….
Benang kusut kan ?

